Arti Cinta dalam Rajutan Sutra Asmara

Berbagai Rasa, Mengungkap Misteri Cinta

Atas Izin Allah,

Cinta, ibarat partikel udara yang tak pernah bisa kita lihat namun sering sekali kita rasakan

Cinta, tak beda jauh dengan air di lautan yang tak pernah habis untuk dimaknai

Cinta, seperti sambal, sudah tahu pedas tapi masih saja dimakan

Cinta, Adalah racun yang nikmat untuk ditenggak

Cinta,…..

Bab I : Makna Cinta

Definisi Cinta

Ingin kukatakan arti cinta kepadamu dinda

Agar kau mengerti arti sesungguhnya

Tak akan terlena dan terbawa harum bunga asmara

Yang akan membuat dirimu sengsara[1]

Pernahkah anda mengalami gejala semacam ini :

  • Kecenderungan seluruh hati yang terus-menerus (kepada yang dicintai)
  • Kesedihan hati menerima segala keinginan orang yang dicintainya
  • Kecenderungan sepenuh hati untuk lebih mengutamakan dia daripada diri dan harta sendiri, seia sekata dengannya, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, kemudian merasa bahwa kecintaan tersebut masih kurang
  • Pengembaraan hati karena mencari yang dicintai, sementara lisan senantiasa menyebut-nyebut namanya
  • Menyibukkan diri untuk mengenang yang dicintainya dan menghinakan diri kepadanya[2]

Cinta adalah Pengorbanan

Ini definisi yang cukup akrab ditelinga banyak orang. Cinta, sering dianggap identik dengan pengorbanan. Padahal, pengorbanan hanya bagian dari konsekuensi yang harus ditanggung oleh orang yang jatuh cinta. Cinta memang membutuhkan pengorbanan. Bangsa Jepang juga pernah membuat dunia tercengang dengan budaya hirakiri, yakni rela menghabisi nyawanya sendiri bila gagal membela sang kaisar.

Cinta adalah Tanggung Jawab

Cinta, harus membawa tanggung jawab, yang harus direfleksikan dalam sikap fanatik dan membela habis-habisan. Betapa sangat konyolnya, bila seseorang mengaku mencintai islam, tetapi ia membiarkan nilai-nilai ajaran islam terlantar dalam perilaku kesehariannya. Dan lihat juga, bagaimana islam menuntut tanggung jawab istri yang mencintai suaminya, “Selalu membuat suaminya bergembira bila dipandang, yang selalu taat kepada suaminya, dan yang tidak pernah melanggar perintahnya, serta tidak berkhianat dalam mengelola harta suamniya tersebut”[3]

Cinta Adalah Keindahan

Cinta Adalah hiasan dalam kehidupan manusia. Karena cinta itu indah maka cinta seringkali pula diidentikkan dengan seni. Yang jelas, cinta itu bukanlah keindahan. Namun cinta itu memang indah, dan keindahan itu sendiri bagian tak terpisahkan dari cinta. dalam sebuah hadits diungkapkan, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai segala yang indah”[4]

Cinta adalah Perjuangan

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (Al-Ankabut : 69)

Bab II : Ragam-Ragam Cinta

Cinta Kepada Allah

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Al-Baqarah : 165)

Cinta kepada Allah adalah sumber segala wujud cinta sejati. Tentang wajibnya cinta kepada Allah, sudah menjadi hal yang mufakat. Namun yang lebih penting dari itu, bagaimana seorang hamba bisa mendapatkan cinta Allah. Karena, Allah hanya akan mencintai hamba yang mencintaiNya.

Cinta Kepada Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dalam Al-Quran, Allah menegaskan bahwa cinta kepada Rasulullah r adalah jalan bagi setiap hamba, agar dicintai oleh Allah. Antara lain dalam firman-Nya, “Katakanlah wahai Muhammad,’Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang’.” (Ali-Imran : 31).

Nabi r bersabda, “Orang yang memiliki tiga hal berikut, pasti merasakan manisnya iman, yakni hendaknya Allah dan RasulNya lebih dicintai dari segalanya; tidak mencintai seseorang melainkan karena Allah; dan benci kembali kepada kekafiran, seperti kebencian seseorang bila dicampakkan ke dalam api.”[5]

Dalam hadits lain, “Tak seorang pun dikatakan beriman sebelum ia mencintai diriKu lebih daripada dia mencintai anaknya, orang tuanya, atau seluruh orang di dunia.”[6]

Buah cinta kepada Nabi r adalah sebagai berikut :

  • Cinta kepada Nabi r menyebabkan seseorang merasakan manisnya iman
  • Dapat menyertai Rasulullah r di akhirat karena cinta kepada beliau

Cinta Kepada Sesama Mukmin

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran : 103)

Dalam Hadits lain, Rasulullah r juga bersabda :

“Jauhilah perbuatan haram, niscaya engkau menjadi paling ahli beribadah. Puaslah dengan rezeki yang dibagikan oleh Allah, niscaya engkau menjadi orang terkaya. Berbuat baiklah kepada tetangga, niscaya engkau menjadi mukmin sejati. Cintailah untuk menjadi milik orang lain apa saja yang engkau cintai untuk menjadi milikmu, niscaya engkau menjadi muslim sejati…”.[7]

Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan, “Hadits diatas menunjukkan, bahwa seorang mukmin akan merasa berbahagia, apabila saudaranya sesama mukmin merasa bahagia. Ia ingin, bila saudaranya itu turut mendapatkan kebaikan, seperti yang dia dapatkan. Dan semua itu, berpangkal dari hati yang sempurna, yakni hati yang terbebas dari rasa hasad, dengki dan permusuhan terhadap sesama muslim. Karena, sifat dengki mendorong pemiliknya agar membenci orang lain yang dapat  menyamai apalagi mengunggulinya dalam kebaikan. Ia ingin menjadi orang yang paling istimewa di tengah masyarakat.”[8]

Cinta Kepada Lawan Jenis

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk

Cinta  yang muncul melalui cara yang halal, seperti antara suami dengan istri, atau ibu dengan anak dan seterusnya, hanya akan hilang bila secara aturan agama hubungan cinta itu sudah tidak bisa dilanjutkan. Suami, bila sudah bercerai dengan istri, atau salah satunya menjadi kafir. bagitu pula, bila salah satu dari ibu atau anak, murtad.

Cinta akan dijabarkan orang sesuai dengan latar belakang pemikiran, keyakinan, pengalaman dan lain sebagainya. Namun semuanya hanya berada di awang-awang, dan tidak bisa ‘diikat’ dengan batasan tertentu, kecuali melalui nilai-nilai agama.

Cinta Itu Fitrah

Jika yang dimaksud dengan cinta adalah kecenderungan hati terhadap sesuatu atau hal tertentu yang menyebabkan orang yang mencintainya berkeinginan memilikinya, maka itu adalah fitrah.

Karena Allah sudah menegaskan :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran :14)

Seorang lelaki menyukai dan mencintai wanita? itu biasa, dan wajar-wajar saja, bila yang dimaksud adalah bahwa si lelaki menyukai wanita tersebut dan ingin memilikinya secara sah. Yang perlu dicatat adalah bagaimana menuntaskan rasa cinta seperti itu menurut aturan Allah, seperti yang tercantum dalam banyak ayat dan hadits-hadits nabi. Menuntaskan rasa cinta? Ya, artinya, jangan sampai rasa cinta itu dibalut oleh kehendak nafsu. Kalau seorang lelaki sudah merasa cukup umur, kemudian ia menyukai seorang wanita yang bagus agamanya, selain sosok dan kepribadiannya pun menarik hatinya, tuntaskan dengan cara yang disyariatkan, yaitu menikah. “Wahai kawula muda. barangsiapa diantara kalian yang sudah memiliki ‘ba’ah’ (kemampuan seksual), hendaknya ia menikah. Sesungguhnya yang demikian itu lebih dapat memelihara pandangan mata dan kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa. Sesungguhnya puasa itu adalah obat baginya.”[9]

Cinta untuk di Rumah Tangga

Cinta adalah mawaddah, warahmah, sedang nafsu seks sebagai naluri adalah nafsu syahwat. keduanya hanya bisa bersatu dalam perkawinan, karena berseminya cinta yang dijamin oleh Allah Ta’ala, sebagaimana tercantum dalam surat Ar-Rum ayat 21 dengan arti, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Cinta Asmara

Bila rasa cinta itu masih menggeliat dihati seseorang, sementara ia belum mampu menikahinya, maka rasa cinta itu tidak boleh dipupuk. Karena melampiaskan cinta kasih dengan mengobrol, berbual-bual, saling melihat dan bepergian bersama-sama adalah haram. Dan sebenarnya cinta seperti itu lebih layak disebut nafsu asmara, bukan cinta sejati. Balutannya adalah nafsu bukan iman. Nafsu asmara seperti itu disebut panah iblis.

Cara megatasinya adalah dengan banyak berdzikir dan beribadah, serta upayakan menjauhi pergaulan dengannya dan dengan teman-teman dekatnya, agar seorang muslim atau muslimah tidak terjerumus kedalam keharaman demi keharaman

Cinta Tak Terlampiaskan

Cinta terhadap lawan jenis yang tidak diselesaikan dengan pernikahan, akan berkembang menjadi magma nafsu yang bergejolak, lalu mengucur deras seperti lahar panas mengguyur dalam kehidupan seorang muslim yang sebelumnya teduh dengan iman diantaranya sebagai berikut :

  • Berkurangnya rasa cinta kepada Allah
  • Mendahulukan apa yang menjadi kesukaan kekasihnya itu, daripada kesukaan Allah
  • Cinta buta. Artinya, cinta asmara itu membuat orang buta. Semua orang mengakui adanya realitas itu. Tapi sayang, sedikit diantara mereka yang enggan menjadi orang buta. Kebanyakannya justru menikmati kebutaan itu. Cinta itu pula, yang membuat seorang pecinta rela meniru kekasih secara habis-habisan. Meniru cara berpakaian, cara bicara, bahkan hingga mimik wajah dan yang lainnya
  • Keganjilan. Karena asmara dapat membuat orang menjadi linglung, menjadi mampu bertindak gila-gilaan, atau bahkan bisa membikin orang gila beneran

Untuk yang Terlanjur Terkena Panah Iblis

Hubungan interaksi yang sering tak terkontrol, menyebabkan pemuda atau pemudi baik-baik pun sering terjebak pada dilema serius, atau jatuh cinta, tertikam panah iblis, keburu kepincut si dambaan hati. Nah, dilema ini tentu harus segera diatasi, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Hal yang harus ditegaskan, bahwa sumber tikaman panah iblis adalah pandangan mata.

Karena pandangan mata yang bebas adalah penyebab masuknya hawa nafsu ke dalam hati, maka Allah memerintahkan menjaga pandangan mata, karena dikhawatirkan akibatnya. Allah berfirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’.” (An-Nur : 30-31)


[1] Arti Cinta Album : Dari Jakarta Ke Kuala Lumpur oleh Snada

[2] Madarraj As-Salikin 3:1

[3] Sunan An-Nasa’I dalam kitab An-Nikah, bab “Wanita Bagaimana yang Terbaik”, hadits NO 3231. Diriwayatkan juga oleh Ahmad dalam Al-Musnad II 251, sanadnya hasan. Lihat Jami’ Al-Ushul, dengan hasil penelitian Al-Arnauth VI : 498, lafazh ini milik Ahmad, “Tidak melakukan yang tidak disenangi oleh suami pada diri sendiri dan hartanya.” Silakan baca kembali Al-Mafatih III : 471

[4] Diriwayatkan  oleh Muslim dalam Shahih-nya I : 93, At-Tirmidzi IV : 361, serta yang lainnya

[5] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari I : 16 dari hadits Anas

[6] Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya, I : 405, juga boleh dari Ad-Darimi dalam Sunannya II : 397 hadits Anas

[7] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi IV551, oleh Ibnu Majah II : 1410, serta Ahmad, Al Baihaqi, Al-Haitsami dan Ibnu Abi Syaibah

[8] Lihat Jami’ Al-Ulum wa Al-hikam I : 121

[9] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya, dalam kitab An-Nikah, bab “Orang Yang Belum Mampu Menikah, Hendaknya Berpuasa”, hadits No. 5006. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, kitab An-Nikah, bab “Dianjurkannya Menikah Bagi Orang yang Bergolak Nafsunya”, hadits No. 1400

Buku Rujukan :

Sutra Asmara : Ustad, Abu Umar Ba’asyir

Iklan

2 Responses to Arti Cinta dalam Rajutan Sutra Asmara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: